![]() |
Hj Elya Hadiana
|
MENJADI salah satu dari tiga lurah perempuan di Kota Mataram membuat Hj Elya Hadiana memiliki peran dobel. Baik menjadi lurah dan ibu rumah tangga dalam keluarga.
Menjadi Lurah Ampenan Tengah wanita yang memiliki tiga orang anak ini harus pintar membagi waktu. Elya harus bisa menempatkan diri baik di lingkungan pekerjaan dan rumah. Saat menjadi lurah, maka ia harus dekat dengan seluruh warganya yang ada di kelurahan.
”Kedekatan ini memang harus terjalin agar tidak bermasalah kedepannya,” katanya.
Tugasnya sebagai lurah tidak semudah yang dipikirkan. Kebijakan pemerintah ke warga harus selalu terpantau. ”Saya harus langsung turun ke masyarakat untuk menyampaikan kebijakan pemerintahan tersebut,” jelasnya.
Salah satu yang direncanakan Pemkot Mataram adalah pembangunan Jalan Pabean menjadi jalan khusus bagi pejalan kaki. Ini masih dalam wacana.
![]() |
KLASIK: Bangunan
klasik masih dapat dinikmati di kota tua Ampenan. Bangunan tua banyak menghiasi
wilayah Ampenan Tengah.
|
”Simpang lima nantinya akan menjadi pemberhentian kendaraan yang akan memasuki Jalan Pabean,” jelasnya.
Diakuinya, setiap kebijakan selalu menuai pro dan kontra. Disinilah tugasnya yang dekat dengan masyarakat harus menjalin komunikasi yang baik dengan warga sekitar.
”Intinya yang penting itu sosialisasi dan menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat yang ada di dalam itu,” terangnya.
Sebagai lurah, selain menyampaikan program dari atasannya. Ia harus berperan dalam menjaga keharmonisan warganya. Di wilayahnya kehidupan warga beragam suku, agama, ras, dan golongan. Hasilnya terlihat ketika salah satu dari suku menggelar kegiatan, maka suku lainnya membantu. Kerharmonisan inilah yang dijaga agar bisa menjadi kota yang didambakan.
”Misalkan islam mengadakan kegiatan maka warga lainnya baik dari tionghoa, arab, sasak, bugis dan lainnya akan bersatu menyukseskan kegiatan tersebut begitu sebaliknya,” bebernya.
Menurut Elya, Ampenan menyimpan sejarah dan pelajaran moral yang mengajarkan bahwa budaya, etnis, suku bahkan agama bukanlah hal yang patut diperdebatkan. Perbedaam bisa menjelma menjadi keindahan yang patut dinikmati dan disyukuri. Jadi, selain melihat aset sejarah di Kota Mataram, yang datang berkunjung ke Ampenan bisa memetik pelajaran berharga bahwa perbedaan bukanlah penyebab dari perpecahan.
“Hal yang istimewa dari Kota Tua Ampenan ini adalah kekayaan akan etnis yang mendiami wilayah ini,” Ucap Elya.
Ya, memang bila datang ke wilayah ini bisa menjumpai Kampung Cina, Kampung Melayu, Kampung Bali, Kampung Bugis, Kampung Arab dan Kampung Banjar. Keragaman etnis ini memperkuat sejarah keberadaan pelabuhan di masa lampau.
![]() |
FOTO KELUARGA: Hj
Elya Hadiana yang merupakan Lurah Ampenan Tengah ini terlihat kedekatannya
bersama keluarga dalam foto keluarga usai anak pertamanya wisuda.
|
Ditanya soal perannya sebagai ibu rumah tangga, Elya mengaku, tetap berjalan normal. Itu terlihat saat D’Ladies mengajak berbincang, Ibu Lurah sedang sibuk membuat gado-gado.
”Kerja lima hari, membuat saya memanfaatkannya untuk keluarga. Saya memilih memasak sendiri saat hari libur, bahkan menyiapkan jalan-jalan bersama,” terangnya.
Kedekatan satu hari full bersama keluarga memang biasanya hanya dirasakan hari minggu saja. Namun semenjak Pemkot Mataram menjadikan lima hari kerja, ia pun kini bisa bersama keluarganya sabtu dan minggu.
”Saat libur seperti sekarang ini berusaha selalu bersama keluarga,” tandasnya. (nurul/r11)



Posting Komentar